Materi Pelajaran tentang Reproduksi pada Manusia, merupakan materi yang ditunggu-tunggu oleh siswa kelas XI.IPA. Mengapa ? padahal ketika di SMP juga sudah disampaikan, tetapi baru pengenalan sebatas alat reproduksi. Mungkin inilah yang membuat mereka penasaran, tetapi memang materi ini sangat perlu disampaikan bahkan sejak dini yaitu usia TK dengan mengenalkan adanya laki-laki dan perempuan serta perbedaannya. Tidak sebatas di sekolah secara formal, di masyarakat pun diberikan pendidikan seks.
Hal ini dilakukan sehubungan dengan merebaknya kasus-kasus seputar reproduksi ini yang awalnya dianggap mungkin hanya main-main tetapi mereka tidak menyadari bisa menjadi pederitaan seumur hidup, bukan untuk dirinya sendiri juga berakibat pada keluarganya. Berikut sebuah kisah nyata dari Wonogiri yang sebetulnya banyak di daerah lainnya juga.
Di salah satu SLTA dikabarkan ada seorang siswi yang melahirkan seorang bayi. Kelahiran itu, terjadi sehari setelah orangtua siswi yang bernama Kantil, (bukan nama sebenarnya) yang masih duduk di kelas X menyampaikan surat pengundurkan diri. Kabar tersebut, menambah deretan kabar buruk tentang pelajar mulai tingkat SD hingga SLTA yang terjerat permainan seks bebas cukup memprihatinkan di kalangan pendidik.
Pihak pengelola sekolah, khususnya panitia pendaftaran peserta didik (PPD) diharapkan lebih teliti sehingga tidak kecolongan. Sementara orangtua siswa diminta melakukan pengawasan secara ketat terhadap anaknya dan mau bersikap jujur atas kondisi anaknya saat mendaftar. Sebab jika terjadi peristiwa seks bebas, yang selalu menjadi perguncingan adalah tempat sekolah pelajar tersebut.
Pernyataan bernada harapan itu disampaikan Kabid SMP/SMA Disdik Wonogiri, Suwartono, Jumat (19/2). “Kami belum mendapatkan laporan dan yang lebih tahu pengelola sekolah. Tapi kami berharap PPD TA 2010/2011, pengelola sekolah ataupun panitia bisa membuat kebijakan yang tidak merugikan pihak sekolah, apalagi RSBI. Kasus itu menjadi pelajaran dan jangan sampai kecolongan untuk kali kedua,” ujarnya.
Sementara itu, informasi yang diperoleh Espos dari lingkungan sekolah, menyatakan kalau Kantil Selasa (16/2) malam dikabarkan melahirkan bayi berjenis kelamin laki-laki. Para siswa yang enggan disebutkan namanya mengatakan, hari Senin Kantil masih masuk sekolah, tetapi tidak sampai selesai karena pamit sakit. “Siang, Kantil izin pulang karena perut sakit,” ujar teman Kantil. Namun, ujarnya, esok harinya tidak masuk lagi dan mendapat kabar kalau melahirkan. Dia mengaku tidak tahu, kalau Kantil selama ini hamil karena postur tubuhnya gemuk atau bongsor.
Selain, siswa kondisi tubuh Kantil juga tidak diketahui oleh guru-guru di SLTA tersebut.Wakasek Humas sekolah tempat Kantil belajar, Sentot saat dimintai konfirmasi membenarkan kalau siswanya asal Jatisrono itu sudah mengundurkan diri. “Senin (15/2), orangtua Kantil datang ke sekolah menyerahkan surat pengunduran diri anaknya. Kami pun bertanya-tanya dan melakukan investigasi, ternyata kemunduran diri Kantil dikarenakan ada masalah pribadi sehingga pihak sekolah tidak bisa melarang.” (dikutip dari Wonogiri –Espos)
Mungkin ada sebagian orang yang menganggap kisah ini biasa-biasa saja tidak mengagetkan. Mengapa ? Itulah respon masyarakat yang sudah terlalu sering mendengar dan melihat kasus ini, sehingga merasa biasa-siasa saja. Bagaimana dengan Anda ? Kemukakan pendapat Anda dengan buki-bukti yang meyakinkan ?
Kasus ini diangkat terutama untuk mengetahui respon anak- anak muda sekarang terutama usia sekolah. Apakah kasus ini bisa dihilangkan ? Apa yang bisa Anda upayakan ? Kemukakan argumentasinya secara ilmiah dengan pengetahuan Anda tentang reproduksi juga dari segi agama !